Twitter: Penjajahan Era Social Media


Ilustrasi. Sumber: berita8.com
Ilustrasi. Sumber: berita8.com
Mudahnya akses internet beberapa tahun belakangan ini membuat dunia semakin kecil. Jarak dan waktu tidak lagi menjadi halangan. Dunia nyata telah dikonversi menjadi data-data dalam bentuk Byte. Sharing  file dan dokumen juga semakin mudah dan murah. Dahulu mengirim selembar surat harus menunggu hingga berminggu-minggu sampai berbulan. Sekarang cukup dengan mengupload dan mengeklik tombol send di email, tidak sampai hitungan menit sudah dapat diterima oleh si penunggu email.
Begitu lengkap fasilitas telekomunikasi yang dihadirkan oleh kecanggihan internet. Begitu pula dengan pertemanan yang sudah merenggang akibat kesibukan kerja atau aktifitas lain bisa diselesaikan dengan situs-situs pertemenan didunia maya. Situs pertemanan ini sering kita sebut dengan social media atau jejaring pertemanan, dan lain-lain. ada banyak situs jejaring pertemanan yang dapat kita manfaatkan di internet. Yang paling banyak digunakan oleh pengguna Indonesia adalah Facebook, Twitter, Google+, Friendster, dan beberapa aplikasi yang baru bermunculan belakangan seperti Yahoo Koprol yang konon katanya bikinan anak negeri. 
Dari sekian banyak jejaring sosial tersebut, ada yang membuat saya merasa gelisah karena sistem pertemanannya. Yang saya maksud adalah sistem pertemenan yang ada di twitter. Kenapa dengan twitter?
Berbeda dengan Facebook, Twitter merupakan jejaring social yang menurut saya adalah bentuk feodalisme era modern (sosial media). Kenapa bisa demikian, karena di twiiter menggunakan sistem pertemanan yang feodalistik. Dimana orang yang terkenal akan menjadi raja/ratu yang akan mendapat pengikut (follower) hingga ratusan juta hingga milliaran. Namun apakah orang tersebut juga akan memfollow kita? Belum tentu.
Berbeda dengan sistem pertemanan yang ada di Facebook. Di Facebook saya fikir lebih mengedepankan kesetaraan dalam persahabatan yang terjalin. Jika ingin menjadi teman di facebook harus sama-sama saling mengkonfirmasi. Sending request pertemanan dan accept pertemanan. Begitu juga dengan status antara kedua pihak pertemanan. Saya akan bisa mudah melihat status teman saya, begitu juga sebaliknya teman saya bisa mendapatkan kabar berita dari status yang saya tulis. Apakah Twitter seperti itu? Jelas TIDAK.
Dalam Updating status ditwitter, kita akan melihat di TL (time line) status orang yang kita follow. Tetapi orang yang kita follow tidak akan melihat status kita sampai kita memention orang tersebut. 
Pengalaman nyata, ketika saya sedang melakukan acara yang dihadiri oleh beberapa kawan-kawan pekerja sosial. Salah satu yang datang adalah teman saya yang cukup terkenal dan familiar karena ide-ide dan tulisan-tulisannya  di beberapa media nasional. Saat berbincang-bincang tiba-tiba datang seorang yang tidak kami kenal. Dengan agak grogi dia memperkenalkan diri dan menyatakan bahwa dia follower teman saya tersebut. Mengetahui kalau dia adalah followernya ditwitter, respon yang diberikan teman saya hanya sebuah ucapan “OOOOWWWWHHH”  selepas dari itu dia melanjutkan obrolan lagi dengan orang lain. Saya melihat kekecutan diwajah follower malang tadi. kecewa berat nampaknya…
Satu lagi bentuk penjajahan adalah, orang yang tidak mempunyai potensi didunia twitter sampai kapanpun dia tidak akan mempunyai follower banyak. Seperti teman kost saya juga yang hampir putus asa mencari-cari follower. Namun karena semua serba minim (Tampang, Body, Statusnya galau terus, wkwkwk) yah tetap menjadi pejuang  mendapat follower sampai sekarang. hehehe
Apakah anda pernah memiliki pengalaman yang sama????? Dijajah didunia twitter.

About klisin

Check Also

TIP

Mungkin sebagaian besar dari anda sudah sering terngiang kata tip. Tip yang saya maksud adalah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *