TIP

Mungkin sebagaian besar dari anda sudah sering terngiang kata tip. Tip yang saya maksud adalah pemberian biasanya berbentuk uang sebagai ungkapan terimakasih atas auatu pelayanan. Sederhananya seperti pemberian tip terhadap pelayanan hotel.

Terus terang, saya bukan orang yang sering menginap dihotel. Mungkin hanya sesekali menginap disana jika ada undangan kegiatan yang sudah pasti ongkos hotelnya dirogoh dari kocek penanggung jawab acara. Karena sudah dipastikan saya tidak akan menyianyiakan dolar saya untuk numpang tidur sambil kedinginan dibawah suhu 16 derajat Celcius. “Kampungan loe” tukas seorang teman yang pernah sekamar hotel dengan saya. Saya mengiyakan dalam hati seraya menimpali “freon itu penyebab global warming, minimalkan penggunaan AC”.
Ada satu hal yang saya coba jauhi ketika menginap dihotel, selain AC tentunya. yaitu petugas hotel. Bukan karena orang-orangnya yang kayak robot, atau paras ganteng dan cantiknya yang bikin jantung berdebar. Tapi malas dengan urusan tip. Jangan salah, kalau cuma bayar tip sayapun mampu. lalu kenapa dengan tip?
Sebenarnya dalam benak saya tidak ada hal yang salah dengan tip yang diberikan kepada pelayan layaknya dihotel, café, dan tempat-tempat hiburan lainya. Jika saya berprofesi sebagai pelayan di tempat-tempat terszebut tentu saya juga akan menerima dengan senang hati tip yang akan diberikan. Hal itu barangkali akan membuat spirit kerja saya semakin tinggi.
Namun disisi lain, saya akan merasa hina jika saya menerima tip ketika dalam posisi saya sebagai pelayan publik. Karena tentu saya akan memilih dan memberikan pelayanan lebih baik kepada orang yang memberikan tip kepada saya. Sedangkan orang yang memberikan tip lebih sedikit akan saya layani tpi tidak cukup baik. Saya layani tanpa senyum, misalnya.
Ketika saya masih kecil dan hidup dikampung. Sering sekali kami melakukan “sambatan”, semacam bantu-membantu sesama warga jika ada yang mempunyai hajat. Bisa membangun rumah, menanam bibit di ladang, panen, atau sekedar “yasinan” dan doa bersama. Semua dilakukan dengan senang hati dan tanpa mengharap imbalan. Cukup dengan beberapa botol “sari buah” sebagai imbalannya kami semua cukup senang.
Saya tidak bisa membayangkan “sambatan” seperti ini harus tergerus dengan rupiah layaknya tip. Jika tidak ada tip, tidak dialayani sepenuh hati. Begitulah kira-kira. Lalu bagaimana nasib identitas kita? Konon ketika saya masih duduk dikelas 4 SD, guru PPKN menjelaskan identitas bangsa indonesia itu adalah “tepo-sliro”. Kami bingung dengan istilah itu, lalu teman kami yang bernama “karjo” (sebenarnya namanya Zainuddin, tapi entahlah kenapa kami memanggilnya karjo, dia bukan murid paling pintar tapi pemberani, berkat dialah kami menjadi pintar, karena keberaniannya menanyakan sesuatu yang tidak dia dan kami pahami) bertanya arti istilah tersebut. Guru kami menjawab “tepo-sliro” adalah gotong rong. “Ooowwwhhhhh” suara kami berbarengan seperti ada yang memberi komando.

Saya tidak berani menjustifikasi bahwa tip itu 100% tidak baik atau halal haramlah. Karena juga mungkin para pelayan tersebut membutuhkannya bukan? Tapi jika sudah menjadi budaya dan menghilangkan identitas “tepo-sliro” berbahaya juga toh…???
Imbas week end ga ada pacar.
Di kost-kostan pak Sumadi, Ciputat.

6/2/2012

About klisin

Check Also

Twitter: Penjajahan Era Social Media

Ilustrasi. Sumber: berita8.com Mudahnya akses internet beberapa tahun belakangan ini membuat dunia semakin kecil. Jarak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *