Meneladani Kebijaksaan Romo Mangunwijaya

Oleh Muhammad Mukhlisin (Penulis adalah pegiat pluralisme di Indonesian Conference on Religion and Peace Jakarta)
Judul : Kotak Hitam Sang Burung Manyar; Kebijaksanaan dan Kisah Hidup Romo Mangunwijaya
Penulis : Y. Suyatno Hadiatmojo, Pr.
Penerbit : Galangpress
Cetakan : I-2013
ISBN : 978-602-8174-89-3
Tebal : 110 Halaman
Terlahir 6 Mei 1929 di Ambarawa, Jawa Tengah, Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau lebih akrab disapa Romo Mangun dikenal sebagai rohaniawan, arsitek, budayawan, penulis, sastrawan, dan pembela wong cilik. Pembelaan Romo Mangun terhadap wong cilik tidak hisapan jempol seperti para pemimpin sekarang. Namun sudah menjadi falsafah hidup beliau yang mengalir dalam desiran darah dan denyut jantung kehidupan sang pengarang novel legendaris “burung-burung manyar” tersebut.
Sebagai seorang rohaniawan Katholik, Romo Mangun sangat getol dalam memanifestasikan teologi progresif revolusioner atau sering juga disebut teologi pembebasan. Teologi yang memihak kaum kecil atau membebaskan kaum tertindas dari berbagai macam penindasan layaknya penindasan ekonomi, politik, budaya, dll.
Romo Mangun terkenal sebagai orang yang ngopeni(perhatian) terhadap sesuatu yang tidak terawat. Sikap perhatian romo mangun tersebut sebagian terlihat dari karya-karya arsitektur beliau yang telah mendapat lusinan penghargaan. Selain itu, penghargaan-penghargaan sastra seperti penghargaan sastra se-Asia Tenggara Ramon Magsaysay juga beliau peroleh pada tahun 1996.  Penghargaan bergengsi Aga Khan yang merupakan penghargaan tertinggi karya arsitektural di dunia berkembang, untuk rancangan pemukiman di tepi Kali Code, Yogyakarta juga di nobatkan kepada beliau. Jerih payah beliau dalam menata permukiman miskin sepanjang Kali Code mengangkat beliau menjadi bapak arsitektur modern Indonesia kala itu.
Buku berjudul “Kotak Hitam Sang Burung Manyar” ini merupakan petikan nasihat-nasihat keseharian Romo Mangun yang terekam baik oleh muridnya yakni Romo Yatno, sang penulis buku tersebut. Kehadiran buku ini terasa sangat bermanfaat mengingat nihilnya karya yang memuat nasihat-nasehat Romo Mangun secara lengkap.
Secara garis besar buku ini memuat pelbagai nasehat Romo Mangun yang terbagi menjadi 3 bagian utama. Pertama, menyoal kehidupan dan ajaran gerejawi yang digeluti oleh Romo Mangun. Bagi Romo Mangun, teologi dan sosial adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, begitu juga dengan gereja dan masyarakat. Romo Mangun mendobrak sekat-sekat teologis gerejawi dan lingkungan masyarakat menjadi sebuah kesatuan yang harmonis.
Kedua, keberpihakan kepada kaum yang lemah. Dalam satu petikannya Romo Mangun menyatakan “pagarilah rumahmu dengan piring, bukan dengan beling”. Petikan tersebut ditujukan kepada orang kaya angkuh yang sering tidak melihat lingkungan sekitar. Begitu juga dengan pesan beliau yang begitu dalam “berpihak yang lemah, harus siap berjuang sendiri”.
Ketiga, belajar kearifan dari lingkungan. Kedetilan Romo Mangun tidak hanya ditunjukkan dalam keahlian sastra dan arsitekturnya saja, melainkan dalam kehidupan sosial. Beliau sering belajar kearifan dari hal-hal sepele dan remeh. Seperti belajar cara berterimakasih dari orang kecil dan mengkritik kemewahan WC dibanding gereja.
Membaca buku ini, seakan kita diajak mengikuti perjalanan keseharian Romo Mangun yang nyentrik, penuh nasihat, humoris, sederhana dan tentu adalah pluralis. Tentu tidak semua keteladanan Romo Mangun bisa terekam penuh dalam buku yang hanya setebal 110 halaman ini. Namun, petikan-petikan dari ucapan Romo Mangun ini masih relevan dan segar dengan kondisi bangsa kita saat ini, di mana toleransi dan kehidupan beragama kita dewasa ini yang semakin mengkhawatirkan.
Kata demi kata dan ungkapan dalam buku ini tidak saja enak untuk dibaca dan didengar, karena orisinalitasnya begitu kentara. Namun lebih baik lagi jika isi buku ini ditindaklanjuti dan dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari.

About klisin

Check Also

Kontroversi Hakim Perempuan

Kuatnya budaya patriarki dalam masyarakat, terutama Islam, menimbulkan tindakan diskriminatif terhadap kaum perempuan. Hal tersebut disebabkan karena …

6 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *