Minah Tetap Dipancung

Kebutuhan ekonomi yang semakin mencekik memaksa Minah,perempuan asal Cirebon, untuk meninggalkan suami dan anak tercintanya demi mengais Riyal di Negera Arab. Tidak ada jalan lain, hanya itu yang dia bisa lakukan. Harapannya begitu besar, bisa membantu perekonomian keluarga, bisa mecari modal usaha, mendaftarkan anaknya sekolah, dan membahagiakan orang tuanya. Sungguh mulia.
Minah seorang yang jujur, ulet, cekatan dalam mengerjakan setiap tugasnya. Minah sudah sangat terampil mengerjakan tugas-tugas kesehariannya sebagai pembantu rumah tangga bagi majikannya yang seorang Arab. Bagi minah, orang Arab merupakan sama saja dengan orang-orang di negaranya. Toh, sama-sama Islam, nabinya juga Muhammad, sholatpun juga sama.
Namun sayang sungguh sayang, dasar minah yang peramah, setiap saat dan setiap waktu dia selalu menganggap semua orang baik. Senyuman keramahan yang manis dari mimik minah ternyata membawa petaka baginya. Si majikan Arab itu terpesona. Minahpun dipaksa untuk melayani sibuaya Arab itu.
Otot-otot minah serasa putus, tak mampu lagi melawan kebejatan majikannya. Suaranya telah habis, tak bisa lagi harus menjerit minta tolong. Surga yang diimpi-impikan minah selama ini telah berubah menjadi neraka.  Neraka di negara kampung halaman agamanya. Negara di mana Nabi yang sering dia baca sejarah al-barzanjinya dilahirkan.
Sampai pada akhirnya ketidaktahanan Minah dalam menghadapi kebejatan si Arab dituangkan dalam sebuah gunting tajam yang menghunjam perut si bedebah itu. Minah tak tau lagi, inilah pembelaan dirinya untuk mengakhiri nerakanya. Pembelaan ini pula yang menyebabkannya harus meninggalkan semua. Meninggalkan anak, suami, orang tua, kampung halaman, negara, dan meninggalkan kehidupannya. Minah di vonis bersalah oleh pengadilan setempat. Tidak ada yang bisa menolongnya, ribuan simpati masyarakat mendukungnya. Namun, Minah tetap dipancung.
“Minah Tetap Dipancung” merupakan salah satu judul film dari beberapa film yang digarap oleh Denny JA dan Hanung Bramantyo. Film ini diluncurkan dan diskusikan dalam rangka pekan #IndonesiaTanpa Diskriminasi Selasa (23/10/2012) kemarin.
Dita Indah Sari, Staff Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang menjadi salah satu pembicara mengatakan “awal yang buruk untuk memulai diskusi. Menyedihkan. Terkondisikan marah, nih, penontonnya.” Sementara pembicara yang lain adalah Nur Harsono, Aktifis Migrant Care, menyatakan film ini meskipun fiktif, tetapi menurut saya ini adalah fakta. Cuma namanya saja yang disamarkan. Menurutnya banyak kasus serupa seperti ini.

About klisin

Check Also

Modernisme lawan sorogan dan bandongan

Oleh: Muhammad Mukhlisin* [/caption] Kekayaan alam nusantara dengan khas agragria merupakan rahmat Allah SWT yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *